Market News
Market News
Bulan November Tiongkok Bangkit Dari Deflasi
Inflasi konsumen Tiongkok bulan November berhasil alami peningkatan setelah periode bulan sebelumnya turun dan sempat mengkhawatirkan pasar global akan terjadi deflasi lanjutan secara bulanan. Namun data yang diumumkan pemerintah hari Rabu (9/12) memberikan banyak ruang bagi para pembuat kebijakan untuk menggunakan langkah-langkah yang lebih agresif untuk meningkatkan perekonomian yang lesu.
Indeks harga konsumen Tiongkok bulan November naik 1,5% dari tahun sebelumnya, meningkat dari 1,3% pada bulan Oktober. Data yang dirilis Biro Statistik Nasional Tiongkok ini berusaha mendekati target pemerintah untuk 3%.

Kenaikan inflasi bulan lalu secara tahunan disorong oleh kenaikan harga pangan sebesar 2,3 persen namun harga non-makanan naik lebih lambat ke 1,1 persen. Kenaikan paling besar dari harga makanan yaitu daging babi yang naik 13,9 persen , yang disusul dengan harga sayuran segar (naik 9,4%) serta harga daging dan unggas (naik 7,2%)
Namun dari harga makanan, ada juga yang alami penurunan harga seperti harga telur (-13,6 persen dari -13,8 persen), buah-buahan segar (-7,2 persen dari -9,1 persen) dan susu dan produk susu cair (-0,7 persen dari -1,0 persen).
Untuk kategori non-makanan, kenaikan inflasi di support oleh kenaikan harga tembakau dan minuman keras (3,8 persen dari 3,8 persen); pakaian (2,2 persen dari 2,4 persen); peralatan rumah tangga dan layanan pemeliharaan (0,8 persen dari 0,8 persen); perawatan kesehatan dan pribadi (2,6 persen dari 2,2 persen). Dan sebaliknya, harga turun untuk transportasi dan komunikasi (-1,4 persen dari -1,9 persen).
Untuk tingkat inflasi bulanan, pemerintah melaporkan terjadi kenaikan dari deflasi 0,3 persen ke posisi 9 persen seperti grafik diatas. Namun data lainnya yang dilaporkan indeks harga produsen kontraksi 5,9 persen pada bulan November dari tahun sebelumnya, dan ini adalah penurunan terdalam sejak September 2009
H BaraVMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang
