Market News

Current Account Jepang Surplus Untuk 16 Bulan Berturut

Departemen Keuangan Jepang hari Selasa (8/12) melaporkan current account negara tersebut yang masih mengalami surplus untuk bulan Oktober  namun berkurang  dari surplus bulan sebelumnya di bulan September. Namun secara tahunan, departemen ini melaporkan adanya peningkatan surplus current account diatas 70 persen.

Pemerintah Jepang berhasil mendapatkan surplus dari transaksi berjalannya sebesar  ¥ 1,45 triliun  pada bulan Oktober, dan secara tahunan meningkat hingga 7237 persen dibandingkan bulan Oktober tahun lalu. Selain lebih rendah dari posisi surplus bulan September, posisi surplus currennt account bulan Oktober lebih rendah dari ekpektasi kenaikan surplus menjadi   ¥1,5 triliun. Surplus ini merupakan surplus untuk 16 bulan berturut.

Japan Current AccountBerhasil surplusnya current account pada bulan tersebut disebabkan surplus neraca  perdagangan  ¥ 200.2 miliar yang berada di bawah perkiraan   ¥ 202,3 miliar tapi naik tajam dari ¥ 82,3 miliar pada bulan sebelumnya.

Pada bulan tersebut ekspor turun 3,7 persen secara tahunan, sementara impor turun 16,4 persen.  Impor paling banyak jatuh dari minyak mentah yang turun 49,2 persen karena harga minyak rata-rata anjlok 52,5 persen menjadi $ 47,88 per barel selama sebulan. Nilai impor gas alam cair juga turun 42,4 persen. Selama ini Jepang telah sangat bergantung pada impor energi reaktor nuklir  sejak bencana nuklir Maret 2011 di Fukushima.
 
Sementara itu, surplus di neraca pendapatan utama, yang mencerminkan  pendapatan Jepang  dari investasi asing, turun 14,4 persen menjadi ¥ 1,73 triliun. Hal ini disebabkan  untuk pembayaran dividen yang lebih kecil yang diterima oleh perusahaan dari unit luar negeri.

Sebagai informasi dari pasar valas, kurs yen telah turun terhadap dolar AS sebesar 11,1 persen  sepanjang tahun dengan rata-rata 120,06 ¥ terhadap dolar. Pelemahan yen biasanya mendukung ekspor dengan membuat produk yang lebih murah di luar negeri dan mengangkat nilai pendapatan luar negeri dalam hal yen.

 

 

H Bara/VMN/VBN/Senior Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang