Market News

Harga CPO Tertekan Pelemahan Minyak Mentah

Harga CPO di bursa komoditas Malaysia pada perdagangan Selasa (08/12) terpantau mengalami penurunan. Harga komoditas ini gagal memanfaatkan sentimen positif berupa penurunan mata uang ringgit. CPO tidak juga kunjung rebound meskipun mata uang ringgit hari ini menurun terhadap dollar AS. Penurunan ringgit menyebabkan harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi relatif lebih murah bagi para pembeli luar negeri. Seharusnya hal ini mendorong kenaikan permintaan.

Namun turunnya harga minyak mentah menjadi dorongan sentimen negatif yang mengakibatkan harga CPO tertahan di dalam trend melemah. Melemahnya harga minyak mentah membuat bahan bakar alternatif seperti yang dibuat dari CPO berkurang permintaannya.

Harga minyak mentah WTI ditutup turun pada dinihari tadi, anjlok 5,8 persen pada 37,65 dollar per barel setelah OPEC gagal untuk mengatasi kelebihan pasokan yang terus bertambah, sementara dolar juga terus menguat yang membuat harga minyak mentah menjadi lebih mahal. Saat ini terpantau minyak mentah WTI masih berada di posisi terendah hampir 7 tahun.

Harga CPO kontrak paling aktif di bursa komoditas Malaysia hari ini tampak mengalami pelemahan signifikan. Harga kontrak Februari 2016 yang merupakan kontrak paling aktif mengalami penurunan sebesar 45 ringgit dan diperdagangkan pada posisi 2.390 ringgit per ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa pergerakan harga CPO berjangka pada perdagangan selanjutnya masih berpotensi untuk melanjutkan trend melemahnya. Pergerakan harga masih akan dipengaruhi oleh pergerakan mata uang ringgit dan kondisi permintaan dan pasokan global. Harga minyak mentah juga memberikan pengaruh kuat terhadap pergerakan harga CPO.

Harga CPO berjangka kontrak Februari 2016 di bursa komoditas Malaysia berpotensi mengetes level support pada posisi 2.360 ringgit dan 2.330 ringgit. Sedangkan level resistance yang akan dites jika terjadi kenaikan ada pada posisi 2.420 ringgit dan 2.450 ringgit.

 

Freddy/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center
Editor: Asido Situmorang