Market News
Market News
Mengintip Anggaran Capex 2016 Bank-bank di Indonesia
Menjelang akhir tahun 2015 ini kondisi ekonomi Indonesia masih mengalami perlambatan pertumbuhan, namun demikian diprediksikan akan membaik di tahun depan, sebagaimana disampaikan oleh Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo di Jakarta, Jumat (4/12). “Kalau kita bandingkan dengan beberapa negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya minus 3 persen, kita masih bisa positif 4,7-4,8 persen. Kita syukuri moga-moga akan bisa lebih baik lagi di tahun 2016,”demikian penuturannya. Tahun depan, BI memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5,2-5,6 persen.
Bagaimana perbankan menyikapi kondisi ekonomi 2016 mendatang?
Dari berbagai data yang dipublikasikan, beberapa bank besar di Indonesia meskipun optimis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun mendatang, tetap melakukan langkah-langkah preventif dengan menekan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) nya. Namun ada juga yang menggunakan angka yang sama atau meningkat dibandingkan tahun lalu.
Dalam pengertian sederhana capital expenditure yang dimaksud adalah alokasi yang direncanakan dalam budget untuk melakukan pembelian, perbaikan, atau penggantian segala sesuatu yang dikategorikan sebagai aset perusahaan secara akuntansi.
Berikut kebijakan seputar Capex yang dilakukan oleh beberapa bank besar di Indonesia yang dapat menjadikan gambaran umum bagaimana menyikapi kondisi ekonomi nasional di tahun 2016.
Bank Mandiri
Diperkirakan capex tahun depan lebih rendah dibandingkan 2015. Tahun lalu anggaran capex Bank Mandiri berkisar Rp 3,5 triliun. Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri menyampaikan tahun 2016 akan menganggarkan capex sekitar Rp 1,7 triliun. Penurunan jumlah yang sangat signifikan.
Nilai itu terdiri dari capex IT senilai US$ 100 juta dan capex non IT Rp 400 miliar. Rencana penggunaannya terutama adalah untuk kebutuhan IT seperti pengembangan ATM, EDC, dan lainnya.
Bank BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengalokasikan dana belanja modal atau capex sebesar Rp3 triliun pada 2016. Jumlah ini sama dengan anggaran belanja modal tahun 2015. “Anggaran belanja modal akan digunakan untuk membeli kantor dan meningkatkan teknologi,” kata Direktur Utama BNI Achmad Baiquni di Jakarta beberapa waktu lalu. Pembelian kantor dibutuhkan karena masih banyak yang dalam masa sewa, sudah waktunya memiliki kantor sendiri.
Bank BRI
Berbeda dengan kedua bank di atas, tahun 2016 Bank BRI justru meningkatkan alokasi dana capex dari sekitar Rp.3 triliun pada 2015 menjadi Rp. 4,5 triliun untuk tahun 2016. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama BRI Asmawi Syam di sela acara Seminar Internasional Sustainable Finance to Support Sustainable Development Goals di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Asmawi mengungkapkan rencana penggunaan belanja modal tahun depan salah satunya untuk pengembangan teknologi informasi (IT), seperti satelit BRI yang diperkirakan siap beroperasi pada pertengahan tahun 2016. Sebagian lainnya akan digunakan untuk mendukung pertumbuhan anorganik perusahaan melalui akuisisi perusahaan lain. Asmawi mengatakan tengah mengincar perusahaan pembiayaan dan sekuritas untuk diakusisi tahun depan.
Bank BCA
Bagaimana dengan bank BCA? Tahun 2015 BCA menganggarkan capex sebesar Rp 3 triliun, dimana sebagian besar anggaran digunakan untuk teknologi informasi, perluasan kantor cabang dan penambahan ATM.
Untuk tahun 2016, seperti dikatakan Wakil Presiden Direktur Eugene K. Galbraith, Bank BCA masih menghitung capex untuk 2016. Namun secara garis besar diperkirakan pengeluaran akan lebih tinggi pada barang dan jasa yang diimpor karena dampak depresiasi rupiah. Galbraith mengatakan bank akan terus mengalokasikan dana untuk sistem IT pada tahun depan, untuk memajukan mobile banking dan internet banking serta meningkatkan fitur produk.
Berbagai bank memiliki kebijakan tersendiri dalam merencanakan anggaran belanja modal di tahun depan, tergantung optimisme dan rencana ekspansi usaha yang akan dilakukan tahun mendatang. Namun secara umum sebagaimana diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia yang meyakini tahun 2016 pertumbuhan ekonomi nasional relatif lebih baik dibandingkan tahun ini. Bank Indonesia menilai, pemulihan ekonomi global akan dimotori oleh perkembangan ekonomi negara-negara maju. Pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.
Emy Trimahanani/VMN/VBN/Senior Analyst Vibiz Research Center
Editor : Asido Situmorang
